Seru

Yang paling mengasyikan dan penuh tantangan adalah meliput ke lokasi Gerakan Aceh Merdeka di saat konflik mereka tinggi dengan TNI, kita kucing-kucingan dengan semua orang.

Perginya saa rombongan TNI, malamnya ngopi sama TNA , pssst…

Walah.

Dikejar Seolah TKI

Yang paling mendebarkan saat bekerja di lapangan adalah mengikuti TKI (Tenaga Kerja Indonesia) gelap masuk ke dalam hutan-hutan di Malaysia. Kita pun dikejar-kejar seolah TKI. Untungnya kami selamat, aman dan tentram ditemani petugas handal dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Kuala Lumpur. Alamakjang pokoknya!

(Numpang marah ya…)

“Dasar Uwak-uwak kepoh!” (Julurin lidah ke oknum yang ngejar-ngejar itu!) Pakai penyidikan yang profesional lain kali; siapa yang pendatang haram dan siapa yang bukan…

Uang

Hal paling tidak nyaman selama bekerja menjadi jurnalis adalah ketika narasumber yang kita kenal dengan baik menawarkan jasa baik sejumlah uang, dan kita diminta untuk tidak menyiarkan berita tersebut. Ampun pakcik! Maki saja aku.

Disandera

Hal yang paling menjengkelkan selama menjadi jurnalis adalah disandera para preman yang ingin menggusur sebuah perumahan miskin di jalan Sumarsono-Masdulhak Medan. Kalau sekarang sudah berdiri perumahan super mewah di sana, ketahuilah bahwa aku salah satu korban kekejaman developer yang menyewa para preman untuk memindah paksakan keluarga miskin yang umumnya etnis India dari kawasan tersebut.

Ceritanya aku sedang mau mengambil gambar buldozer yang diletakkan dua blok dari kawasan tersebut, sedang enak-enak merekam datang gerombolan preman dari depan, belakang samping kiri kanan, lalu aku digiring ke sebuah rumah kosong diintimidasi dan diancam mau bunuh. Beruntung handphone-ku di-set speed dial, ke salah satu nomor jurnalis lain. Alhasil aku dibebaskan teman-teman jurnalis yang langsung mencariku di sekitar kawasan tersebut.  Drama penyanderaanku selama tiga jam pun berakhir. Untung belum diapa-apain. Besoknya aku headline surat kabar lokal! Terkenal bow!

Pesawat

Yang paling mengasyikkan saat masih sering kerja di lapangan adalah menumpang pesawat pribadi orang-orang yang mengantarkan bantuan ke kawasan gempa dan tsunami di Aceh. Nggak nyangka hanya dengan menunjukkan tiket (baca: kamera besar), aku bisa tukar ganti pesawat dari Medan, Banda Aceh, Banda Aceh Meulaboh, Meulaboh Simeuleu, Simeleu Medan. Yuuuuhuuuu.

Caranya dengan mendatangi pilotnya langsung. Pasang muka memelas (cewek semanis aku gitu loh, hakhaz!).

“Hello Sir, are you going to Polonia airport” Ia mengangguk.

“Do you still have one seat for me?”

Dia liat aku dengan muka serius…

“Well… let me see…”

Ehmm… nggak lama jarinya menunjuk ke sebuah kursi di dalam pesawat mini tersebut. Alhamdulillah.

Oh iya, perjalanan pulang dari Meulaboh ke Medan lain lagi, aku menumpang pesawat pribadi milik seorang billioner Amrik. Deg-deg an juga berada di sana bersamanya dengan interior dan fasilitas super mewah pesawat itu.

Terasa kayak baru meliput dari luar angkasa. (Hiperbolaaaaaaaaaaaaa).

Sumut 1 Ditahan KPK

 

 

“Sumut 1 akhirnya ditahan KPK.”

Sms itu masuk kami langsung rapat proyeksi di BBM’s Group.

Arifin besok wawancara Sekretaris Daerah. Budi ke Wakil Gubernur. Taufik vox pop warga Langkat. Romulo ambil liputan peresmian pesantren yang gagal diresmikan  gubernur di Mandailing Natal.  Golkar siapkan pengacara untuk Syamsul Arifin. Senin Wanasari harus ambil apel di kantor pemrintahan provinsi, siapa yang akan memimpin apel Senin pagi?

“Ada nggak warga yang sedih?”

“Ada kak, wartawan  yang nongkrong XxXxXx pasti muram durjana…?”

“Maksudnya?”

Hahahahaha rapat poyeksi pun kami tutup dengan sukhjon masing-masing.

 

Anak Hilang

Pagi-pagi dua orang ibu dan seorang anak lelakinya tiba di kantorku.

“Bu anak saya hilang di sekolah.”

Ia meletakkan secarik foto ukuran 10 inci. Mata pasrah menerawang, membiarkan suasana bisu. Memastikan jika aku bersedia membantu. Tentu saja aku ikut terdiam. Sekretaris kantor yang menerima tamu berusaha mencatat nama si ibu di buku tamu. Aku bergegas menelpon seorang kontributor sebelum si ibu berpikiran aku tak peduli dengan kasusnya.

“Hilang di sekolah, saya sudah mencarinya selama dua minggu dengan mengikuti tempat-tempat di mana orang melihatnya.” (logat Batak yang keras). Aku berdeham…

“Anak ke berapa bu…” Kataku setengah berbisik, bersimpati…

“Anak saya sembilan, yang hilang ini anak ke tujuh?”

“Hah anak ke tujuh???”

“Iya, suami saya sudah menikah lagi, semua anak-anak ikut saya.”

Jebret!

Anak sembilan, cuma satu yang hilang si ibu saja sudah kewalahan mencari-cari buah hatinya. Sebentar ya bu. Aku bergegas kembali menelpon Arifin salah satu kontributor tadi. Dua puluh menit kemudian Kontributor sampai di kantor, aku mengarahkan mereka untuk mengambil gambar ibu itu di sekolah, mewawancarai pihak sekolah dan kemungkinan adanya saksi terakhir yang melihat korban. Si ibu menyalami… ia mengenggam tanganku erat-erat…

“Sudah ada anak bu?” Suaranya terbata. Erk…kog rasanya aku kayak ditikam.

“Sudah bu.” Kataku gagu…

“Terima kasih atas bantuannya ya…”

“Sama-sama bu, semoga di adek segera ketemu.”

Ia tak menjawab. Muka itu masih pasrah, kerutan di bawah mata menunjukkan kerisauan yang teramat sangat. Sudah ada anak bu? Suaranya teriang-iang, aku bergegas menelpon anakku. Alas! Nggak diangkat. Kudoakan anakku diam-diam… diam-diam.