Julie Garwot dalam Menjemput Impian

Resensi Buku
Oleh: Linocious

Judul: Ransom Menjemput Impian
Penulis: Julie Garwood
Genre: Roman Sejarah
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Wineta Andaruni
Halaman: 576
Ukuran: 12,5 x 19 cm
ISBN: 978-602-8723-27-5


Sebenarnya saya nggak tahan melihat sampul novel Julie Garwood versi bahasa Indonesia ini. Desainnya lebay, dipojok kiri ada Rose warna pink, alamak! Gambar puri di latar kanan belakang sudah berkesan klasik dengan sebuah kolam kecil di sisi kanan bawah, bunga pink itu benar-benar tidak menarik, membuat novel ini terkesan murahan, alay mak oi! Padahal isinya paten loh! (kata orang Medan)

Eniwei, saat membaca buku ini saya merasa seperti dibawa ke dalam film-film kerajaan Inggris di masa lalu. Yang berkembang dalam pikiran adalah apakah kisah ini benar terjadi, apakah benar ini cerita masa lalu kerajaan Inggris? Seolah non fiksi saya terhanyut dalam kehidupan darah biru dan konflik kesetiaan pada raja. Well, pantaslah jika saya tertanya-tanya, Julie Garwood memang penulis yang dikenal piawai menggambarkan suasana romans sejarah kerajaan. Bagi yang sudah membaca bukunya The Secret atau The Wedding akan mendapatkan gaya penulisan yang sama dalam buku ini.

Karakter tokoh-tokoh dalam novel ini, brilian! Coba lihat tokoh matang dan kuat pada sosok Gillian yang digambarkan sangat berani dan tegar serta cerdas melewati beragam cobaan. Juga karakter Brodickyang khas. Dengan plot mengalir, serta bahasa sederhana, Dialog-dialog cerdas dalam Menjemput Impian memang benar-benar menggiring pembaca mengikuti Gillian menjemput impian .

Gillian seorang perempuan Inggris yang cantik, kehilangan saudara kandungnya ketika masih kecil . Ayahnya dibunuh karena mempertahankan sebuah kotak berisi perhiasan miliki Raja John, di saat yang sama ia juga kehilangan saudara kandungnya. Buku ini mengisahkan pencarian Gillian terhadap saudaranya yang hilang tersebut. Saat dewasa ia meminta bantuan klan Sinclair. Di sana ia bertemu dengan Broderick yang terkenal bengis. Namun Benarkah Broderick kejam dan sombong? Saya menyukai interaksi antara Gillian dan Broderick. Roman sejarah ini keren dan ciamik. Jadi nggak usah heran kalau Menjemput Impian memenangi New York Times Bestselling Author.

Lalu, apakah Gillian akan pulang ke Inggris atau bertahan dengan klan Buchanan? Erk…baca sendiri ya.

Play Dirty oleh Sandra Brown, Seru Sampai Habis

RESENSI BUKU
Oleh: Linocious


Judul: Play Dirty (Permainan Kotor)
Penulis: Sandra Brown
Genre: Fiksi
Penerbit : Gramedia
Alih Bahasa: Julanda Tamtani
Cetakan: Pertama November 2010
Halaman: 648
Ukuran: 18 cm
ISBN: 978-979-22-6312-1

Seru Sampai Habis!

Risih nggak sih, melihat desain sampul dan judul buku ini? Judul Play Dirty itu juga memberi konotasi mesum yang gimanaaa gitu. Sampulnya juga mengarah-arah lagi. Coba perhatikan siluet sisi kanan bagian perut seseorang itu, sekilas membentuk pakaian dalam yang tersamar. Betul jika sampulnya memang tidak vulgar, malah bernilai seni fotografi yang unik dan menarik. Tapi…

Well… kalau dari segi marketing, judul dan sampulnya itu memang akan menarik hati orang-orang yang membutuhkan bacaan pornografi…tapi sebenarnya novel apa sih ini?

Prolog dengan ide bank sperma yang diangkat dalam kisah ini cukup menggelitik. Novel ini kaya akan diksi dan pengandaian serta apersepsi keren yang dituangkan dalam banyak perumpaan.Karakter tokohnya kuat, dialog-dialognya menggigit. Pokoknya nggak membosankan. Julanda Tamtami yang menerjemahkan novel ini tampaknya cukup jeli mencarikan bahasa dan kata pengganti yang pas untuk istilah-istilah dalam olah raga rugby yang tidak popular buat pembaca di Indonesia. Jempol buat penulis! Kekurangan buku ini hanya pada ukuran huruf yang kecil-kecil itu, siap-siap aja melotot kalau cahaya kurang sedikit saja.

Grift seorang pemain rugby terkenal yang baru saja keluar dari penjara. Dalam keadaan bokek tiba-tiba ia mendapat tawaran gila untuk menghamili istri Foster Speakman, pengusaha penerbangan tajir asal Dallas. Piuh…tertarikkaaan? Ide cerita buku ini memang gila, penulis memang edan! Pokoknya dari awal hingga tanda baca titik di bagian akhir ini semuanya penuh dengan intrik cerita yang mendebarkan. Apalagi Grift harus cergas menyelamatkan dirinya dari orang-orang masa lalu yang memiliki dendam pribadi atas kasus lamanya. Kisah seru ini semakin menarik setelah ada kematian baru. Bagaimana Grift bisa terlibat dalam polemik tersebut? Akan seperti apa hubungannya dengan Laura Speakman? Ho ho ho,saya benar-benar terhanyut. Grift memang paten kali bah!

Fiksi Sejarah yang Sangat Asyik

RESENSI BUKU
LINOCIOUS

Judul: Sashenka
Penulis: Simon Montefiore
Penerbit: Pustaka Alvabet
Penerjemah: Yanto Musthofa & Ida Rosdalina
Cetakan: I Juni 2010
Halaman: 648
Ukuran 13 x 20 cm

Fiksi Sejarah yang Sangat Asyik

Ini termasuk buku paling keren yang saya baca selama tahun 2011. Buku terjemahan yang diterbitkan di Inggris pertama kalinya tahun 2008 ini ditulis dengan sangat hidup oleh sejarahwan terkenal Inggris Simon Montefiore. Simon berhasil mengupas secara manusiawi, peperangan, cinta, kebohongan, pengkhianatan, kematian dan revolusi, kaya akan babak-babak drama yang mendebarkan. Sashenka berisi tentang kehidupan drama perempuan cantik asal Rusia bernama Sashenka. Sejarah Rusia dalam novel ini diulas dengan sangat hidup, diselingi dengan keintiman dan gairah revolusi yang terjadi di sekitar tahun 1930-an . Mengingat Simon bukan seorang Rusia, saya treamat yakin novel ini ditulis dengan riset yang sangat dalam dan kaya akan prosa dan majas-majas mempesona.

Secara intelektual novel sejarah ini benar-benar membawa pembaca kembali pada masa lalu Rusia, menyentuh, menggugah, tragis, halaman demi halaman menguliti tiga generasi. Pembaca abad ke-21 seperti kita bisa dibuat terperangah dengan kehidupan Marxis serta keunikan Stalin yang serba misterius itu. Sashenka merupakan putri tunggal juragan minyak, seorang Yahudi yang memiliki kekuasaan khusus di tengah kalangan atas di Rusia tahun 1930-an. Sashenka diangkat menjadi agen muda, oleh pamannya dalam aktivitas subversif sejak ia di bangku sekolah, hinga Tsar jatuh, dan revolusi pecah di Rusia. Kehidupan keluarga Sashenka yang penuh dengan kemudahan dan drama benar-benar memikat. Dituliskan dengan sangat cermat oleh Simon.

Sashenka kemudian menikah dengan Vanya dan menjadi orang penting di Rusia di kepimpinan Stalin. Sashenka memiliki dua anak Snowy dan Carlo ( Karlmarx) Saya agak terpukau di bagian ini karena Simon memasukkan sisilah keluarga Karlmax dalam novel ini, membuat saya sibuk mencari tahu siapa sebenarnya orangtua Karlmarx yang terkenal itu, apakah benar Sashenka ibu dari Karlmax? Well… Sama-samalah kita cari tahu he he he. Eniwei…drama novel ini semakin menarik di tengah-tengah halaman yang super tebal itu. Apalagi ketika muncul nama Benya Golden. Apa hubungan Sashenka dengan penulis ini? Setragis apa kemudian kehidupan Sashenka? Apakah Snowy dan Karlmax atau Carlo selamat?

Ah novel ini memang memikat! Diterjemahkan dengan baik. Cetakan dan ukuran hurufnya apik. Sampul versi Indonesianya lebih cantik dari versi asli. Riset kearsipannya lengkap. Keganasan penulis mengupas habis setiap intrik yang terjadi di masa itu benar-benar membuka mata pembaca. Kekuatan sejarah yang dijalin dalam novel ini sungguh nyata! Jadi? Tunggu apalagi? Must read pokoknya!!!

Pillow Talk, Gokil, Sayang Cetakannya Jelek!

RESESI BUKU
OLEH: LINOCIOUS

Judul: Pillow Talk
Penulis: Christian Simamora
Genre: Fiksi Romance Dewasa
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Keempat 2010
Halaman: 462
Ukuran: 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-393-7

Ditulis dengan bahasa gaul, gokil, serta diselang-seling dengan ekpresi  slank bahasa Inggris, sasaran pembaca karya Christian ini juga pasti pembaca yang nyeleneh. Pillow Talk chicklit yang lumayan asyik. Penulisannya deskriptif mengalir,  meski minim prosa, namun analogi ceritanya menarik. Bahasa yang digunakan Christian mewakili ekspresi perkembangan kebudayaan anak muda, bergaya kesusastraan yang agak mengagetkan karena menggunakan pilihan kata yang campur aduk tadi.

So? Kenapa saya sebut lumayan? Nggak tau apakah dalam cetakan-cetakan yang sebelumnya juga terjadi kesalahan cetak yang mengganggu. Waktu tiba di halaman 54, muncul halaman 23 kembali mengulang hingga halaman 54. Eeeh…bukannya nyambung ke halama 55 atau 56 yang muncul kemudian malah halaman 87, mana yang lain?

Jika membawa pendahuluannya ada proofreader segala, editor, piñata letak sampai nama desainer cover (nah-nah bingungkan?), kira-kira apa yang saya tuliskan di atas, begitu jugalah perasaan saya ketika membaca bab awal buku ini. Seharusnya kesalahan cetak tidak perlu terjadi, apalagi ini sudah cetakan yang ke empat, bah! Buat saya, ogah ya beli buku yang salah cetak, tapi sudah terlanjur beliii ya sutralah! Eniwei bersiap-siap aja untuk kehilangan clue di prolog awal.

Novel ke tujuh milik Christian ini mengisahkan tentang nilai persahabatan. Bagaimana jika persahabatan tersebut pada akhirnya tercemar oleh cinta. Imaji yang dipakai penulis cukup asyik di selang-seling dagelan “begituannya” yang membuat kita tersenyum. Judul buku ini mengingatkan saya dengan karya Freya North dengan judul yang sama, barangkali penulis terinsipirasi oleh novel tersebut sehingga perlu membuat versi Indonesianya.

Pillow Talk, menceritakan kisah kehidupan Emi, ia berpacarkan Dimas, dan bersahabat dengan Jo. Novel ini menceritakan bagaimana Emi akhirnya terlibat dalam pergoalakan cinta segitiga antara kekasih dan sahabatnya tersebut.

Sebenarnya kisah semacam  ini terdengar biasa, namun apa yang dituliskan Christian, memiliki pesan unik tersendiri. Membuat pembaca berpikir, sebaiknya mendahulukan sahabat atau kekasih, atau menjadikan seseorang  yang dulunya sahabat menjadi kekasih, atau menjadikan kekasih kita sebagai sahabat saja? Novel ini mungkin bisa memberikan jawabannya, meski dengan hasil cetakan yang jelek…aduh!

The Devil Who Tamed Her, Lebay!

RESENSI BUKU

OLEH LINOCIOUS

Judul:  The Devil Who Tamed Her (Pelajaran Cinta dari Sang Iblis Penggoda)
Genre: Fiksi Roman
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Kelima, 2010
Halaman: 538
Ukuran: 14 X 20 cm
ISBN: 979-780-366

Lebay !!

Fiksi tentang cinta? Piuh, maaf ya ( penerbit dan penulis minta maaf) sejujurnya buku model begini nih yang membuat perut sering mual. Meskipun begitu, nggak bisa ditampik lagi jika peminat novel sejenis berjubel, dan tiap bulan penerbit mana saja pasti ada yang menerbitkan novel baru bergenre sama. Yaaaah…novel ini salah satunya.

Buat yang candu kisah percintaan, karya Yohanna Lindsey ini okelah buat hiburan. Meskipun kalau boleh jujur kisahnya umum sekali,  nyaris sama dengan cerita-cerita cinta putri istana semelekete ala Eropah sana . Prolognya mengingatkan pada kisah-kisah putri ala chicklit, yang sudah banyak diubah menjadi skrenario film itu. Barangkali karena film-film comedy romance banyak penggemarnya, pengarang ini pun latah membuat karya yang mirip-mirip.

Prosa dan gaya bahasa dalam novel ini sebenarnya cukup lumayan, namun ada beberapa kalimat yang digunakan penulis sudah sering digunakan para novelis lain.  Misalnya, kata “jika saja tatapan bisa membunuh…” Ungkapan-ungkapan seperti ini banyak dilejitkan dalam novel-novel terkenal pada karya lima tahun terakhir.

Penulisan alur cerita dengan pola deskripsi ini sebenarnya memang bagus buat pembaca yang nggak mau diribeti dengan beragam teka-teki, namun ya jadinya buku ini berkesan lebay dan biasaaa. Bagi pembaca yang hanya mencari kepuasan perasaan, monggolah, silahkan,  isinya memang tentang perasaan, cintaku cintamu, rinduku, rindumu, mengapa dia dan kenapa bukan aku (hiperbola ah). Yang nggak enak lagi dari novel ini, ending-nya itu,  gampang ditebak!

The Devil Who Tamed Her berkisah tentang seorang pemuda yang iseng membuat taruhan. Ketika pertunangan sahabatnya diputuskan oleh seorang cewek.  Ia bertaruh bisa mengubah sifat buruk dari cewek yang dikenal sangat sombong, reseh, dan angkuh. Pulang dari pesta pertunangan yang gagal, cewek ini pun ia culik dan diasingkan di sebuah istana miliknya yang cukup terpencil. Cerita pun difokuskan penulis di dalam pengasingan ini. Coba tebak akhir ceritanya akan seperti apa? Pasti kamu betul!! Kabur ahhh!

 

 

The Rosetti Letter, Fiksi dari Peristiwa Nyata

Judul: The Rosetti Letter
Penulis: Christi Phillips
Genre: Fiksi sejarah
Penerbit: Gramedia
Penerjemah: Gita Yuliani
Cetakan: Pertama, November 2010
Halaman: 528 Ukuran: 20cm
ISBN: 978-979-22-6265-0

The Rossetti Letter merupakan fiksi yang dipenuhi riset sejarah lengkap tentang konspirasi Spanyol di masa lalu terhadap Venesia. Penulis membawapembaca masuk ke dalam keindahan Venesia yang penuh intrik, spionase dan pembunuhan di tahun 1617. Cerita ini dimulai dengan prolog menarik seorang perempuan yang berniat memasukkan sebuah surat ke dalam sebuah kotak, kemudian baru saya sadari bahwa surat itu menjadi bagian pentingdari  judul buku ini.

Misteri Duke dari Ossuna yang berencana menggulingkan senat hingga akhirnya Republik Venesia menjadi jajahan Spanyol menjadi bagian menarik dari novel berat ini, piuh! Bagi yang sudah pernah mengunjungi Venesia yang terkenal dengan tur gondolanya, cerita dalam novel ini menggambarkan pada pembaca bagaimana keromantisan wilayah itu di masa lalu ( hal 275 lebih detil bow!).  Kehidupan Alessandra yang dikupas habis oleh penulis dengan plot maju mundur, super keren. Bagian La Celestia cukup menarik, mengajari pembaca bagaimana menjadi pelacur berkelas, he he. Halaman-halaman ini membuat saya terpana dan merasa sangat yakin bahwa profesi manusia tertua di dunia ini adalah “pelacur.”

Adalah  Claire seorang yang terdesak untuk membuat disertasi untuk meraih gelarnya dalam bidang ilmu sejarah akhirnya menemukan fakta penting yang selama ini tidak pernah terbuka secara umum dengan menerjemahkan The Rosetti Letter dan kehidupan seorang pelacur masa lalu bernama Alessandra. Claire ditakdirkan menemani Gwen anak seorang tajir liburan ke Venesia. Di Venesia inilah Claire berhasil menyelesaikan disertasinya dan membawa dirinya kembali mundur ke-400 tahun lalu. Memastikan bahwa sebenarnya pelacur-pelacur Venesia ternyata tokoh legandaris.

Well, Christi Phillips si penulis memang mahir mempermainkan fibula, yakni mengolah unsur dasar cerita dari sejarah Venesia di sambung pada peristiwa terkini dan faktual yang dialami Claire, ciamik pokoknya! Membuat novel dengan plot maju mundur so pasti tidak mudah! Boleh dibilang novel ini secara vulgar menggambarkan cinta dan keromantisan ‘aduhai’, terutama di halaman: 442-443. Jika disadur menjadi skenario dan diangkat ke layar lebar. Apa organisasi keagamaan akan melarang peredaran film ini ya?

Eniwei, tokoh Alessandro memang unik. Siapa sebenarnya cinta sejati Alessandro? Apa benar Alessandro mengetahui surat dari Ossuna kepada Bedmar. Saat Alessandro memasukkan surat di prolog novel, yang menyambung di bagian tengah novel di bab The Devil, seru! Tapi…sebenarnya novel ini sad ending atau happy ending ya?  Perasaan cukup tersihir dan campur aduk! Kalimat yang diucapkan Antonio Perez pengantar surat Raja Muda Spanyol Duke Ossuna kepada Alessandra barangkali bisa memancing anda untuk membeli buku ini…

“Kukira hati seorang pelacur tidak bisa dimenangkan, tapi dibeli.” Ah…

The Next Three Days, Sedalam Apa Cinta Pasangan Anda?

Judul: The Next Three Days (2010)

Genre: Drama, Horror, Romance, Mystery & Suspense
Directed by Paul Haggis
Produced by
Michael Nozik, Olivier Delbosc, Paul Haggis, Marc Missonnier
Written by Paul Haggis, Fred Cavayé
Starring Russell Crowe (John Brennan), Elizabeth Banks (Lara), Liam Neeson, Brian Dennehy, Olivia Wilde, Jason Beghe, Lennie James, Aisha Hinds, Daniel Stern, RZA, Kevin Corrigan, Allan Steele
Music by Danny Elfman
Cinematography Stéphane Fontaine
Studio Highway 61 Films
Distributed by Lionsgate
Running time 122 minutes
Country United States
Language English

Ketika saya pertama kali melihat iklannya di dinding sebuah mal di Medan, rasanya tidak bergairah untuk menonton film ini. Namun karena memang tidak ada film pilihan lain, dan jadwal menonton saya memang hanya ada di hari itu, mau tidak mau akhirnya membeli tiket.

Kalau katanya film ini bergenre drama, memang betul kog, di awal kita sudah disuguhi adegan dramatis, yakni  keributan di meja restoran saat makan bersama antara keluarga John Brennan dan istrinya Lara, bersama adik John dan istrinya.

Dalam gimmick tersebut penonton dicekoki karakter Lara yang ditunjukkan sebagai perempuan yang tidak sabar karena akhirnya berkelahi dengan istri adik John saat mengeluarkan lelucon-lelucon sensual. Imej ini tentu saja terekam dengan baik di otak penonton sehingga tidak bisa menebak bagaimana karakter istri John sebenarnya sepanjang film diputar. Sutradara sengaja mengaduk-aduk imajinasi penonton tentang sosok Lara. Coba saja tengok  saat  John dan Lara berada di rumah mereka,  Lara diperlihatkan sebagai istri dan ibu yang baik, walah!

Film bertema rumah tangga ini menurut saya cukup menarik. Hampir di setiap plot ada ketegangan yang membuat penonton bertanya-tanya apa motif Lara sebenarnya, mengapa ia tega membunuh? Padahal kehidupan keluarganya dengan John sangat harmonis. Makin jauh ke dalam film ini saya kemudian mulai bertanya, apakah saya sanggup melakukan apapun demi orang yang saya cintai? Well…

Suatu hari saat pulang kerja di malam hari Lara menghadapi tuduhan telah membunuh bosnya, hal ini dikuatkan dengan beberapa bukti kuat, blazernya terdapat noda darah, saat makan malam dengan adik John ia juga sempat mengeluh tentang bagaimana bos di kantornya yang perempuan sangat cerewet dan bawel. Namun John yang tidak sangat percaya istrinya pembunuh mencari segala cara untuk membebaskan istrinya dari penjara.

Penonton sebenarnya cukup dibuat terharu dengan strategi serta rencana detail yang dilakukan John untuk membebaskan istrinya. Salut dengan angle dan hasil editing film ini yang begitu akurat menggiring opini penonton pada kesalahan Lara, namun tidak lupa menyisipkan haru di sana sini sehingga mata penonton pun ikut berkaca-kaca.

The Next Three Days yang dijadikan judul ternyata menjadi klimaks dan anti klimaks film ini. Lara akan dipindah ke penjara lain menjelang kasusnya disidangkan. Mau tidak mau dalam waktu yang sangat pendek itu John berupaya keras menjalankan rencana pembebasan istrinya dengan cara ilegal.  Terus terang bagian ini sangat menegangkan. Apalagi adegan John menghadapi mafioso, serta aksi kebut-kebutan di jalan tol, seru abis!

Penonton cukup terpuaskan dengan konflik akhir yang dituangkan dalam angle-angle kamera yang sangat baik. Beberapa resensi film menganggap film ini lamban di awal, tapi menurut saya cukup sesuai karena sutradara berusaha menonjolkan karakter setiap  pemain.

Epilog film yang begitu menegangkan ini ditutup dengan sebuah jawaban, bagaimana seorang polisi yang melakukan penyidikan terhadap kasus Lara akhirnya menemukan bukti baru ketika ia melakukan reka ulang adegan pembunuhan tersebut. Bagian ini kemudian menjadi kunci penting dan jawaban terhadap kasus Lara, dan penonton ditinggalkan dengan beragam kesimpulan dan persepsi sendiri tentang baik buruk sebuah tindakan.

Crowe memang piawai dan sangat menjiwai perannya, sementara Banks mampu mengimbangi Crowe dengan prima. Tontonlah film ini, jangan lupa bawa suami Anda…barangkali bisa menggugah mereka untuk lebih mencintai sang istri sepenuh hati, tentu bukan hanya humbar-humbar mengucapkan “aku mencintaimu’ namun dibuktikan dengan perbuatan… The Next Three Days memang kerenlah!