Julie Garwot dalam Menjemput Impian

Resensi Buku
Oleh: Linocious

Judul: Ransom Menjemput Impian
Penulis: Julie Garwood
Genre: Roman Sejarah
Penerbit: Dastan Books
Penerjemah: Wineta Andaruni
Halaman: 576
Ukuran: 12,5 x 19 cm
ISBN: 978-602-8723-27-5


Sebenarnya saya nggak tahan melihat sampul novel Julie Garwood versi bahasa Indonesia ini. Desainnya lebay, dipojok kiri ada Rose warna pink, alamak! Gambar puri di latar kanan belakang sudah berkesan klasik dengan sebuah kolam kecil di sisi kanan bawah, bunga pink itu benar-benar tidak menarik, membuat novel ini terkesan murahan, alay mak oi! Padahal isinya paten loh! (kata orang Medan)

Eniwei, saat membaca buku ini saya merasa seperti dibawa ke dalam film-film kerajaan Inggris di masa lalu. Yang berkembang dalam pikiran adalah apakah kisah ini benar terjadi, apakah benar ini cerita masa lalu kerajaan Inggris? Seolah non fiksi saya terhanyut dalam kehidupan darah biru dan konflik kesetiaan pada raja. Well, pantaslah jika saya tertanya-tanya, Julie Garwood memang penulis yang dikenal piawai menggambarkan suasana romans sejarah kerajaan. Bagi yang sudah membaca bukunya The Secret atau The Wedding akan mendapatkan gaya penulisan yang sama dalam buku ini.

Karakter tokoh-tokoh dalam novel ini, brilian! Coba lihat tokoh matang dan kuat pada sosok Gillian yang digambarkan sangat berani dan tegar serta cerdas melewati beragam cobaan. Juga karakter Brodickyang khas. Dengan plot mengalir, serta bahasa sederhana, Dialog-dialog cerdas dalam Menjemput Impian memang benar-benar menggiring pembaca mengikuti Gillian menjemput impian .

Gillian seorang perempuan Inggris yang cantik, kehilangan saudara kandungnya ketika masih kecil . Ayahnya dibunuh karena mempertahankan sebuah kotak berisi perhiasan miliki Raja John, di saat yang sama ia juga kehilangan saudara kandungnya. Buku ini mengisahkan pencarian Gillian terhadap saudaranya yang hilang tersebut. Saat dewasa ia meminta bantuan klan Sinclair. Di sana ia bertemu dengan Broderick yang terkenal bengis. Namun Benarkah Broderick kejam dan sombong? Saya menyukai interaksi antara Gillian dan Broderick. Roman sejarah ini keren dan ciamik. Jadi nggak usah heran kalau Menjemput Impian memenangi New York Times Bestselling Author.

Lalu, apakah Gillian akan pulang ke Inggris atau bertahan dengan klan Buchanan? Erk…baca sendiri ya.

Play Dirty oleh Sandra Brown, Seru Sampai Habis

RESENSI BUKU
Oleh: Linocious


Judul: Play Dirty (Permainan Kotor)
Penulis: Sandra Brown
Genre: Fiksi
Penerbit : Gramedia
Alih Bahasa: Julanda Tamtani
Cetakan: Pertama November 2010
Halaman: 648
Ukuran: 18 cm
ISBN: 978-979-22-6312-1

Seru Sampai Habis!

Risih nggak sih, melihat desain sampul dan judul buku ini? Judul Play Dirty itu juga memberi konotasi mesum yang gimanaaa gitu. Sampulnya juga mengarah-arah lagi. Coba perhatikan siluet sisi kanan bagian perut seseorang itu, sekilas membentuk pakaian dalam yang tersamar. Betul jika sampulnya memang tidak vulgar, malah bernilai seni fotografi yang unik dan menarik. Tapi…

Well… kalau dari segi marketing, judul dan sampulnya itu memang akan menarik hati orang-orang yang membutuhkan bacaan pornografi…tapi sebenarnya novel apa sih ini?

Prolog dengan ide bank sperma yang diangkat dalam kisah ini cukup menggelitik. Novel ini kaya akan diksi dan pengandaian serta apersepsi keren yang dituangkan dalam banyak perumpaan.Karakter tokohnya kuat, dialog-dialognya menggigit. Pokoknya nggak membosankan. Julanda Tamtami yang menerjemahkan novel ini tampaknya cukup jeli mencarikan bahasa dan kata pengganti yang pas untuk istilah-istilah dalam olah raga rugby yang tidak popular buat pembaca di Indonesia. Jempol buat penulis! Kekurangan buku ini hanya pada ukuran huruf yang kecil-kecil itu, siap-siap aja melotot kalau cahaya kurang sedikit saja.

Grift seorang pemain rugby terkenal yang baru saja keluar dari penjara. Dalam keadaan bokek tiba-tiba ia mendapat tawaran gila untuk menghamili istri Foster Speakman, pengusaha penerbangan tajir asal Dallas. Piuh…tertarikkaaan? Ide cerita buku ini memang gila, penulis memang edan! Pokoknya dari awal hingga tanda baca titik di bagian akhir ini semuanya penuh dengan intrik cerita yang mendebarkan. Apalagi Grift harus cergas menyelamatkan dirinya dari orang-orang masa lalu yang memiliki dendam pribadi atas kasus lamanya. Kisah seru ini semakin menarik setelah ada kematian baru. Bagaimana Grift bisa terlibat dalam polemik tersebut? Akan seperti apa hubungannya dengan Laura Speakman? Ho ho ho,saya benar-benar terhanyut. Grift memang paten kali bah!

Fiksi Sejarah yang Sangat Asyik

RESENSI BUKU
LINOCIOUS

Judul: Sashenka
Penulis: Simon Montefiore
Penerbit: Pustaka Alvabet
Penerjemah: Yanto Musthofa & Ida Rosdalina
Cetakan: I Juni 2010
Halaman: 648
Ukuran 13 x 20 cm

Fiksi Sejarah yang Sangat Asyik

Ini termasuk buku paling keren yang saya baca selama tahun 2011. Buku terjemahan yang diterbitkan di Inggris pertama kalinya tahun 2008 ini ditulis dengan sangat hidup oleh sejarahwan terkenal Inggris Simon Montefiore. Simon berhasil mengupas secara manusiawi, peperangan, cinta, kebohongan, pengkhianatan, kematian dan revolusi, kaya akan babak-babak drama yang mendebarkan. Sashenka berisi tentang kehidupan drama perempuan cantik asal Rusia bernama Sashenka. Sejarah Rusia dalam novel ini diulas dengan sangat hidup, diselingi dengan keintiman dan gairah revolusi yang terjadi di sekitar tahun 1930-an . Mengingat Simon bukan seorang Rusia, saya treamat yakin novel ini ditulis dengan riset yang sangat dalam dan kaya akan prosa dan majas-majas mempesona.

Secara intelektual novel sejarah ini benar-benar membawa pembaca kembali pada masa lalu Rusia, menyentuh, menggugah, tragis, halaman demi halaman menguliti tiga generasi. Pembaca abad ke-21 seperti kita bisa dibuat terperangah dengan kehidupan Marxis serta keunikan Stalin yang serba misterius itu. Sashenka merupakan putri tunggal juragan minyak, seorang Yahudi yang memiliki kekuasaan khusus di tengah kalangan atas di Rusia tahun 1930-an. Sashenka diangkat menjadi agen muda, oleh pamannya dalam aktivitas subversif sejak ia di bangku sekolah, hinga Tsar jatuh, dan revolusi pecah di Rusia. Kehidupan keluarga Sashenka yang penuh dengan kemudahan dan drama benar-benar memikat. Dituliskan dengan sangat cermat oleh Simon.

Sashenka kemudian menikah dengan Vanya dan menjadi orang penting di Rusia di kepimpinan Stalin. Sashenka memiliki dua anak Snowy dan Carlo ( Karlmarx) Saya agak terpukau di bagian ini karena Simon memasukkan sisilah keluarga Karlmax dalam novel ini, membuat saya sibuk mencari tahu siapa sebenarnya orangtua Karlmarx yang terkenal itu, apakah benar Sashenka ibu dari Karlmax? Well… Sama-samalah kita cari tahu he he he. Eniwei…drama novel ini semakin menarik di tengah-tengah halaman yang super tebal itu. Apalagi ketika muncul nama Benya Golden. Apa hubungan Sashenka dengan penulis ini? Setragis apa kemudian kehidupan Sashenka? Apakah Snowy dan Karlmax atau Carlo selamat?

Ah novel ini memang memikat! Diterjemahkan dengan baik. Cetakan dan ukuran hurufnya apik. Sampul versi Indonesianya lebih cantik dari versi asli. Riset kearsipannya lengkap. Keganasan penulis mengupas habis setiap intrik yang terjadi di masa itu benar-benar membuka mata pembaca. Kekuatan sejarah yang dijalin dalam novel ini sungguh nyata! Jadi? Tunggu apalagi? Must read pokoknya!!!

Pillow Talk, Gokil, Sayang Cetakannya Jelek!

RESESI BUKU
OLEH: LINOCIOUS

Judul: Pillow Talk
Penulis: Christian Simamora
Genre: Fiksi Romance Dewasa
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Keempat 2010
Halaman: 462
Ukuran: 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-393-7

Ditulis dengan bahasa gaul, gokil, serta diselang-seling dengan ekpresi  slank bahasa Inggris, sasaran pembaca karya Christian ini juga pasti pembaca yang nyeleneh. Pillow Talk chicklit yang lumayan asyik. Penulisannya deskriptif mengalir,  meski minim prosa, namun analogi ceritanya menarik. Bahasa yang digunakan Christian mewakili ekspresi perkembangan kebudayaan anak muda, bergaya kesusastraan yang agak mengagetkan karena menggunakan pilihan kata yang campur aduk tadi.

So? Kenapa saya sebut lumayan? Nggak tau apakah dalam cetakan-cetakan yang sebelumnya juga terjadi kesalahan cetak yang mengganggu. Waktu tiba di halaman 54, muncul halaman 23 kembali mengulang hingga halaman 54. Eeeh…bukannya nyambung ke halama 55 atau 56 yang muncul kemudian malah halaman 87, mana yang lain?

Jika membawa pendahuluannya ada proofreader segala, editor, piñata letak sampai nama desainer cover (nah-nah bingungkan?), kira-kira apa yang saya tuliskan di atas, begitu jugalah perasaan saya ketika membaca bab awal buku ini. Seharusnya kesalahan cetak tidak perlu terjadi, apalagi ini sudah cetakan yang ke empat, bah! Buat saya, ogah ya beli buku yang salah cetak, tapi sudah terlanjur beliii ya sutralah! Eniwei bersiap-siap aja untuk kehilangan clue di prolog awal.

Novel ke tujuh milik Christian ini mengisahkan tentang nilai persahabatan. Bagaimana jika persahabatan tersebut pada akhirnya tercemar oleh cinta. Imaji yang dipakai penulis cukup asyik di selang-seling dagelan “begituannya” yang membuat kita tersenyum. Judul buku ini mengingatkan saya dengan karya Freya North dengan judul yang sama, barangkali penulis terinsipirasi oleh novel tersebut sehingga perlu membuat versi Indonesianya.

Pillow Talk, menceritakan kisah kehidupan Emi, ia berpacarkan Dimas, dan bersahabat dengan Jo. Novel ini menceritakan bagaimana Emi akhirnya terlibat dalam pergoalakan cinta segitiga antara kekasih dan sahabatnya tersebut.

Sebenarnya kisah semacam  ini terdengar biasa, namun apa yang dituliskan Christian, memiliki pesan unik tersendiri. Membuat pembaca berpikir, sebaiknya mendahulukan sahabat atau kekasih, atau menjadikan seseorang  yang dulunya sahabat menjadi kekasih, atau menjadikan kekasih kita sebagai sahabat saja? Novel ini mungkin bisa memberikan jawabannya, meski dengan hasil cetakan yang jelek…aduh!

The Devil Who Tamed Her, Lebay!

RESENSI BUKU

OLEH LINOCIOUS

Judul:  The Devil Who Tamed Her (Pelajaran Cinta dari Sang Iblis Penggoda)
Genre: Fiksi Roman
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Kelima, 2010
Halaman: 538
Ukuran: 14 X 20 cm
ISBN: 979-780-366

Lebay !!

Fiksi tentang cinta? Piuh, maaf ya ( penerbit dan penulis minta maaf) sejujurnya buku model begini nih yang membuat perut sering mual. Meskipun begitu, nggak bisa ditampik lagi jika peminat novel sejenis berjubel, dan tiap bulan penerbit mana saja pasti ada yang menerbitkan novel baru bergenre sama. Yaaaah…novel ini salah satunya.

Buat yang candu kisah percintaan, karya Yohanna Lindsey ini okelah buat hiburan. Meskipun kalau boleh jujur kisahnya umum sekali,  nyaris sama dengan cerita-cerita cinta putri istana semelekete ala Eropah sana . Prolognya mengingatkan pada kisah-kisah putri ala chicklit, yang sudah banyak diubah menjadi skrenario film itu. Barangkali karena film-film comedy romance banyak penggemarnya, pengarang ini pun latah membuat karya yang mirip-mirip.

Prosa dan gaya bahasa dalam novel ini sebenarnya cukup lumayan, namun ada beberapa kalimat yang digunakan penulis sudah sering digunakan para novelis lain.  Misalnya, kata “jika saja tatapan bisa membunuh…” Ungkapan-ungkapan seperti ini banyak dilejitkan dalam novel-novel terkenal pada karya lima tahun terakhir.

Penulisan alur cerita dengan pola deskripsi ini sebenarnya memang bagus buat pembaca yang nggak mau diribeti dengan beragam teka-teki, namun ya jadinya buku ini berkesan lebay dan biasaaa. Bagi pembaca yang hanya mencari kepuasan perasaan, monggolah, silahkan,  isinya memang tentang perasaan, cintaku cintamu, rinduku, rindumu, mengapa dia dan kenapa bukan aku (hiperbola ah). Yang nggak enak lagi dari novel ini, ending-nya itu,  gampang ditebak!

The Devil Who Tamed Her berkisah tentang seorang pemuda yang iseng membuat taruhan. Ketika pertunangan sahabatnya diputuskan oleh seorang cewek.  Ia bertaruh bisa mengubah sifat buruk dari cewek yang dikenal sangat sombong, reseh, dan angkuh. Pulang dari pesta pertunangan yang gagal, cewek ini pun ia culik dan diasingkan di sebuah istana miliknya yang cukup terpencil. Cerita pun difokuskan penulis di dalam pengasingan ini. Coba tebak akhir ceritanya akan seperti apa? Pasti kamu betul!! Kabur ahhh!

 

 

The Rosetti Letter, Fiksi dari Peristiwa Nyata

Judul: The Rosetti Letter
Penulis: Christi Phillips
Genre: Fiksi sejarah
Penerbit: Gramedia
Penerjemah: Gita Yuliani
Cetakan: Pertama, November 2010
Halaman: 528 Ukuran: 20cm
ISBN: 978-979-22-6265-0

The Rossetti Letter merupakan fiksi yang dipenuhi riset sejarah lengkap tentang konspirasi Spanyol di masa lalu terhadap Venesia. Penulis membawapembaca masuk ke dalam keindahan Venesia yang penuh intrik, spionase dan pembunuhan di tahun 1617. Cerita ini dimulai dengan prolog menarik seorang perempuan yang berniat memasukkan sebuah surat ke dalam sebuah kotak, kemudian baru saya sadari bahwa surat itu menjadi bagian pentingdari  judul buku ini.

Misteri Duke dari Ossuna yang berencana menggulingkan senat hingga akhirnya Republik Venesia menjadi jajahan Spanyol menjadi bagian menarik dari novel berat ini, piuh! Bagi yang sudah pernah mengunjungi Venesia yang terkenal dengan tur gondolanya, cerita dalam novel ini menggambarkan pada pembaca bagaimana keromantisan wilayah itu di masa lalu ( hal 275 lebih detil bow!).  Kehidupan Alessandra yang dikupas habis oleh penulis dengan plot maju mundur, super keren. Bagian La Celestia cukup menarik, mengajari pembaca bagaimana menjadi pelacur berkelas, he he. Halaman-halaman ini membuat saya terpana dan merasa sangat yakin bahwa profesi manusia tertua di dunia ini adalah “pelacur.”

Adalah  Claire seorang yang terdesak untuk membuat disertasi untuk meraih gelarnya dalam bidang ilmu sejarah akhirnya menemukan fakta penting yang selama ini tidak pernah terbuka secara umum dengan menerjemahkan The Rosetti Letter dan kehidupan seorang pelacur masa lalu bernama Alessandra. Claire ditakdirkan menemani Gwen anak seorang tajir liburan ke Venesia. Di Venesia inilah Claire berhasil menyelesaikan disertasinya dan membawa dirinya kembali mundur ke-400 tahun lalu. Memastikan bahwa sebenarnya pelacur-pelacur Venesia ternyata tokoh legandaris.

Well, Christi Phillips si penulis memang mahir mempermainkan fibula, yakni mengolah unsur dasar cerita dari sejarah Venesia di sambung pada peristiwa terkini dan faktual yang dialami Claire, ciamik pokoknya! Membuat novel dengan plot maju mundur so pasti tidak mudah! Boleh dibilang novel ini secara vulgar menggambarkan cinta dan keromantisan ‘aduhai’, terutama di halaman: 442-443. Jika disadur menjadi skenario dan diangkat ke layar lebar. Apa organisasi keagamaan akan melarang peredaran film ini ya?

Eniwei, tokoh Alessandro memang unik. Siapa sebenarnya cinta sejati Alessandro? Apa benar Alessandro mengetahui surat dari Ossuna kepada Bedmar. Saat Alessandro memasukkan surat di prolog novel, yang menyambung di bagian tengah novel di bab The Devil, seru! Tapi…sebenarnya novel ini sad ending atau happy ending ya?  Perasaan cukup tersihir dan campur aduk! Kalimat yang diucapkan Antonio Perez pengantar surat Raja Muda Spanyol Duke Ossuna kepada Alessandra barangkali bisa memancing anda untuk membeli buku ini…

“Kukira hati seorang pelacur tidak bisa dimenangkan, tapi dibeli.” Ah…

The Next Three Days, Sedalam Apa Cinta Pasangan Anda?

Judul: The Next Three Days (2010)

Genre: Drama, Horror, Romance, Mystery & Suspense
Directed by Paul Haggis
Produced by
Michael Nozik, Olivier Delbosc, Paul Haggis, Marc Missonnier
Written by Paul Haggis, Fred Cavayé
Starring Russell Crowe (John Brennan), Elizabeth Banks (Lara), Liam Neeson, Brian Dennehy, Olivia Wilde, Jason Beghe, Lennie James, Aisha Hinds, Daniel Stern, RZA, Kevin Corrigan, Allan Steele
Music by Danny Elfman
Cinematography Stéphane Fontaine
Studio Highway 61 Films
Distributed by Lionsgate
Running time 122 minutes
Country United States
Language English

Ketika saya pertama kali melihat iklannya di dinding sebuah mal di Medan, rasanya tidak bergairah untuk menonton film ini. Namun karena memang tidak ada film pilihan lain, dan jadwal menonton saya memang hanya ada di hari itu, mau tidak mau akhirnya membeli tiket.

Kalau katanya film ini bergenre drama, memang betul kog, di awal kita sudah disuguhi adegan dramatis, yakni  keributan di meja restoran saat makan bersama antara keluarga John Brennan dan istrinya Lara, bersama adik John dan istrinya.

Dalam gimmick tersebut penonton dicekoki karakter Lara yang ditunjukkan sebagai perempuan yang tidak sabar karena akhirnya berkelahi dengan istri adik John saat mengeluarkan lelucon-lelucon sensual. Imej ini tentu saja terekam dengan baik di otak penonton sehingga tidak bisa menebak bagaimana karakter istri John sebenarnya sepanjang film diputar. Sutradara sengaja mengaduk-aduk imajinasi penonton tentang sosok Lara. Coba saja tengok  saat  John dan Lara berada di rumah mereka,  Lara diperlihatkan sebagai istri dan ibu yang baik, walah!

Film bertema rumah tangga ini menurut saya cukup menarik. Hampir di setiap plot ada ketegangan yang membuat penonton bertanya-tanya apa motif Lara sebenarnya, mengapa ia tega membunuh? Padahal kehidupan keluarganya dengan John sangat harmonis. Makin jauh ke dalam film ini saya kemudian mulai bertanya, apakah saya sanggup melakukan apapun demi orang yang saya cintai? Well…

Suatu hari saat pulang kerja di malam hari Lara menghadapi tuduhan telah membunuh bosnya, hal ini dikuatkan dengan beberapa bukti kuat, blazernya terdapat noda darah, saat makan malam dengan adik John ia juga sempat mengeluh tentang bagaimana bos di kantornya yang perempuan sangat cerewet dan bawel. Namun John yang tidak sangat percaya istrinya pembunuh mencari segala cara untuk membebaskan istrinya dari penjara.

Penonton sebenarnya cukup dibuat terharu dengan strategi serta rencana detail yang dilakukan John untuk membebaskan istrinya. Salut dengan angle dan hasil editing film ini yang begitu akurat menggiring opini penonton pada kesalahan Lara, namun tidak lupa menyisipkan haru di sana sini sehingga mata penonton pun ikut berkaca-kaca.

The Next Three Days yang dijadikan judul ternyata menjadi klimaks dan anti klimaks film ini. Lara akan dipindah ke penjara lain menjelang kasusnya disidangkan. Mau tidak mau dalam waktu yang sangat pendek itu John berupaya keras menjalankan rencana pembebasan istrinya dengan cara ilegal.  Terus terang bagian ini sangat menegangkan. Apalagi adegan John menghadapi mafioso, serta aksi kebut-kebutan di jalan tol, seru abis!

Penonton cukup terpuaskan dengan konflik akhir yang dituangkan dalam angle-angle kamera yang sangat baik. Beberapa resensi film menganggap film ini lamban di awal, tapi menurut saya cukup sesuai karena sutradara berusaha menonjolkan karakter setiap  pemain.

Epilog film yang begitu menegangkan ini ditutup dengan sebuah jawaban, bagaimana seorang polisi yang melakukan penyidikan terhadap kasus Lara akhirnya menemukan bukti baru ketika ia melakukan reka ulang adegan pembunuhan tersebut. Bagian ini kemudian menjadi kunci penting dan jawaban terhadap kasus Lara, dan penonton ditinggalkan dengan beragam kesimpulan dan persepsi sendiri tentang baik buruk sebuah tindakan.

Crowe memang piawai dan sangat menjiwai perannya, sementara Banks mampu mengimbangi Crowe dengan prima. Tontonlah film ini, jangan lupa bawa suami Anda…barangkali bisa menggugah mereka untuk lebih mencintai sang istri sepenuh hati, tentu bukan hanya humbar-humbar mengucapkan “aku mencintaimu’ namun dibuktikan dengan perbuatan… The Next Three Days memang kerenlah!

Theodore Boone, Kid Lawyer, Novel Hukum untuk Remaja

Resensi Buku

Oleh: Linocious

Judul: Theodore Boone, Kid Lawyer
Penulis: John Grisham
Genre: Fiksi thriller hukum.
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama September 2010
ISBN: 978-979-22-6229-2
Halaman: 272
Ukuran 20 cm

Buat penggemar John Grisham, novelnya yang ini memang agak lain. Barangkali ditujukan untuk menjerat pembaca remaja untuk terbiasa dengan fiksi-fiksi hukumnya yang yahud itu. Ditulis dengan deskriptif, mengalir, plot ringan Kid Lawyer memang banyak menuturkan itstilah-istilah hukum yang manjadi ciri khas penulis piawai ini.

“Pengacara Cilik” bacaan ringan yang bisa dijadikan teman saat akhir pekan, dibaca Sabtu kelar Minggu, soalnya ditulis dengan gaya bahasa yang mudah, huruf standar, dan tidak begitu banyak diksi bahasa yang membuat pembaca mengerutkan kening. Bagi yang sudah terbiasa dengan novel-novel John Grisham, cerita kali ini barangkali agak mengagetkan, soalnya ditulis dengan sudut pandang remaja gaul.

Theodore Boone anak tunggal, pasangan pengacara sibuk terbiasa mengikuti kasus-kasus yang dihadapi oleh kedua orangtua mereka di tempat praktek yang sekaligus menjadi rumah mereka. Tak sengaja Theodore yang terlalu tahu banyak soal kasus ini terpaksa ikut masuk ke ruang sidang untuk sebuah kasus pembunuhan.

Duffy terlibat kasus pembunuhan, namun ada seorang pemuda yang melihat kejadian pembunuhan tersebut, dan Theodore tak sengaja tenggelam dalam pergulatan hukum tersebut temasuk menyelami kehidupan saksi-saksi yang berhubungan dengan kasus Duffy.

Kisah ini unik, Grisham membuat sebuah alur sederhana untuk membuat pembacanya penasaran. Tapi berhasilkah kesaksian Theodore menyelesaikan kasus Duffy di meja hijau? Ia memang baru hanya berusia 13 tahun, tapi gayanya keren kali bah! John memang berhasil jika ingin mengenalkan dunia hukum buat remaja.

Buat yang terbiasa dengan buku-buku beratnya John Grisham, cerita ini memang terasa membosankan dan ringan, tapi jangan buru-buru menampik, karena ada beberapa bagian misteri hukumnya menarik untuk disimak.  Tetap mengigit kog… (aih doggie kali ya? woof woof!) te o pe- lah pokoknya dikau John!

The Proposal, Komedi Romantis Bikin Ngakak

RESENSI FILM

Oleh: Linocious
Judul: The Proposal Genre: Drama Komedi Romansa
Pemain: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Malin Akerman, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson, Oscar Nuñez, Aasif Mandvi, Betty White Durasi: 1 jam 47 menit
Dirilis: 13 Juni2009
Sutradara: Anne Fletcher Distributor: Walt Disney Pictures
Pemain: Sandra Bullock, Ryan Reynold

Bagi yang gemar dengan komedi romantis, kayaknya harus melirik film Sandra Bullock yang satu ini. Dari plot awal hingga akhir banyak terdapat adegan dan dialog gokil yang membuat penonton nggak bisa menahan tawa. Sebenarnya ide cerita film ini nyaris garing dan tidak ada apa-apanya. Malah film serupa menjamur jumlahnya, misal, A Walk in The Clouds, What Happen In Las Vegas dan While You Were Sleeping. “Pura-pura menikah kemudian menjadi Sungguhan.” Eh basi ngga sih? Namun nggak tuh! Buktinya film ini mampu mendongkrak jumlah penonton yang bombamtis. Apa lagi kalau bukan acting bagus duo pemain Sandra Bullock yang segar dipandang dan Ryan Reynolds yang tampil memikat sebagai pria lugu tertindas. Bravo!

Tentu banyak yang merekam dengan baik acting kocak Sandra Bullock di film “Ms. Congeniality” satu dan dua dan “Two Weeks Notice (2002)”. The Proposal sama seru dengan kedua film tersebut. Sejujurnya sejak awal saya sudah bisa menebak akan seperti apa film ini di akhirnya. Namun kepiawaian Sandra Bullock membuat saya terpuaskan dengan semua adegan, klop abis! Jempol buat sutradara yang sanggup membuat tontonan sederhana ini menjadi film yang menghibur. Padahal betapa tema cerita standar sekali! Namun tontonan berdurasi 108 menit sanggup jadi penghibur.

Nggak heran jika Sandra Bullock kemudian bergelar “Queen of Romantic Comedy”. Dua filmnya yang terkenal, Premonition (2007) dan The Lake House (2006), memperoleh pendapatan total masing-masing US$50 juta. Kali terakhir film Bullock duduk di posisi teratas box office pada 1999 dengan judul Forces of Nature yang juga dibintangi Ben Affleck. Sekadar informasi, pekan ini, film yang ia bintangi berhasil duduk di puncak box office Amerika Serikat dan Kanada.

The Proposal berhasil menempati posisi 4 box office dengan total pendapatan US$ 98,93 juta. Angka ini cukup besar mengingat The Proposal harus berhadapan dengan Ice Age 3 dan Transformer 2. Yang lebih ngagetin ia berhasil menyingkirkan jawara minggu lalu, film komedi pesta bujangan The Hangover yang mendapatkan US$8,5 juta (sekitar Rp88,6 miliar). Pendapatan yang sama diraih film komedi terbaru Jack Black, Year One, yang dirilis Sony Corp’s Columbia Pictures. Well, rasanya film ini bukan film yang bisa disepelekan!

The Proposal mengisahkan Bullock, 44 tahun, seorang eksekutif yang memilih menjalani pertunangan palsu dengan sekretarisnya yang diperankan aktor Ryan Reynolds. Dia melakukan itu agar tidak dideportasi ke negaranya, Kanada. Untuk membuktikan hal tersebut Margaret pun merancang pernikahan dengan sekretarisnya demi mempertahankan karir. Ide gilak! Ia mengorbankan diri mengikuti Ryan dalam acara ulang tahun nenek Ryan yang ternyata keturunan Ningrat Alaska demi membuktikan pertunangan tersebut pada petugas imigrasi. Berjalan muluskah usaha mereka ini? Karena alurnya yang tidak berbelit-belit, ya apa yang akan terjadi selanjutnya sangat mudah ditebak, tapi tidak merusak kenikmatan menonton kog. Meskipun ending-nya agak-agak garing, padahal bisa lebih romantis.. Tapi ya saya nggak mau mengeluhkan hal tersebut, karena film ini nyata-nyata berhasil membuat saya terus tersenyum hingga keluar pintu bioskop!

The Blind Side? Wajib Tonton!

Judul: The Blind Side
Genre: Drama Biografi
Pemain: Sandra Bullock, Tim McGraw Abenicio del Toro, Anthony Hopkins, Emily Blunt, Hugo Weaving, Geraldine Chaplin.
Produser & Skenario : John Lee Hancock
Buku: Michael Lewis
Tayang: 20 November 2009
Durasi: 129 menit
Penghargaan:  Memenangkan 4 Penghargaan dengan 12 nominasi

Bagi yang sudah membaca buku The Blind Side karya  Michael Lewis, kayaknya harus menonton film yang diperani Sandra Bullock ini. Bukan apa-apa,  buku best seller dan menyandang gelar The Deutcher Buchpress ini sangat menyentuh ketika difilmkan. Nggak banyak cengkunek, hebat pokoknya!

Sandra Bullock memang pelakon  berkarakter, penonton selalu puas dengan acting-nya yang konyol di setiap film yang ia bintangi. Meski membawa peran sebagai  sosok ibu yang serius dalam The Blind Side, penjiwaannya sungguh luar biasa. Kalau saya tidak salah, sepertinya ini film pertama Sandra bullock yang nggak nyeleneh, tapi sangat menjerat mata penonton hampir dari awal hingga akhir. Top abis! Nggak heran kalau di ajang bergengsi Golden Globe 2010 ia terpilih sebagai artis pemeran terbaik.

Baik coba kita ulas mengapa The Blind Side ini dianggap spektakuler memenangkan 4 penghargaan dalam 10 nominasi. Kalau boleh saya sarikan,  film ini memang dibuat apik,  setting lokasinya keren, teknik gambar dramatisnya kena hampir di semua hal, baik itu pelakon, dialog, dialek, dan  plot-plot yang ada. Alur film ini juga mengalir pas dan sangat hidup, membangkitkan semangat!

Cerita The Blind Side sebenarnya sangat sederhana. Berkisah tentang biografi seorang pamain American Football.  Intinya mengajari penonton bagaimana mengasihi orang lain tanpa pamrih dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan. Semua elemen ini juga berhasil di suguhkan dengan prima oleh Sutradara John Lee Hancock  dalam setiap adegan yang mengharukan. Kelihatan bahwa film ini tidak dibuat main-main.  Yang patut diacungi jempol, The Blind Side mengajarkan penonton bagaimana menjalankan agama kita dengan benar tanpa perlu menceramahi.

The Blind Side bercerita tentang seorang gelandangan bernama Michael Oher keturunan African-American  yang terpaksa berpisah dengan saudara-saudaranya sejak kecil. Gimmick awal film ini cukup keren, malam itu Michael (Mike) sedang mencari tempat hangat untuk bermalam,  satu-satunya tempat itu adalah kolam renang sekolah yang ada heater-nya. Pertemuan tidak sengaja dengan keluarga Touhys malam itu membawa Michael pada sebuah ruang yang bukan cuma berisi mesin pemanas tapi juga  kehangatan sebuah keluarga. Keluarga Touhys yang kemudian mengadopsinya tak peduli meski Oher bukan anak kulit putih seperti mereka.

Di sinilah keunikan dan kekuatan film ini. Keluarga angkat  Mike berupaya membuatnya nyaman, sementara itu Mike juga berusaha menghargai semua kehangatan yang ditawarkan keluarga tersebut. Saya suka  bagian ketika Sandra Bullock berusaha mencari tahu asal usul keluarga Mike dan masuk ke lingkungan kulit hitam, bagaimana dia dilecehkan para preman-preman di kawasan tersebut. Aiiih acting-nya yang slengekan itu keluar loh,  paten ah!!! Jangan kedip di bagian yang ini ya!

Lalu sesukses apakah Mike setelah menjadi anak angkat keluarga Touhys? Sifat Mike yang patuh dan sangat sopan disertai dengan ketulusan keluarga Tuohys yang sangat menyanjung Tuhan itu patut menjadi acuan hidup sehari-hari. Film ini bintang lima, dan wajib tonton!!!

Cengkunek: bahasa Medan artinya omong kosong.