Sindrom Pekerja Jurnalis Teve Baru

“Maaf ya jangan tersinggung, si Anu itu wartawan kelian? Ajarkan dia tata krama, anggar jago kali kutengok gayanya.”  Ujar wartawan cetak senior ini  sambil menjentikan kepingan kecil kotoran kering dari lengannya.

Jurnalis tivi yang baru bekerja memang memiliki kecenderungan ‘maruk’ ketika ia menyadari boleh ‘masuk’ kemana saja dan bisa begitu dekat dengan orang-orang penting.

Mengangguk padanya tanpa banyak berkata.

Jurnalis Menghakimi

Dengan kontributor suatu hari…

“Diiiik, naskahmu tolong perbaikiii, siapalah kita ini sampai harus menghakimi…”

AYAH BEJAT PERKOSA ANAK KANDUNG HINGGA HAMIL/ BABAK BELUR DIHAJAR MASSA///

Jangan pakai kata-kata menghakimi.

1. Durjana
2. Bejat
3. Biadap
4. Nafsu setannya.

Berdeham, menikmati kata-kata sendiri… (Dulu pernah buat kesalahan yang sama soalnya, Bung!)

Petentengan Kali Bah!

Setelah memberi Surat Peringatan ke dua terhadap salah Kontributor rasanya aku memang harus terus memantaunya. Benar saja seminggu setelah masa SP berakhir, ia menunjukkan bahwa ia serius ingin memperbaiki diri, hari itu pun dia mengirim satu berita.

Tapi besoknya…ia mulai tidak menjawab SMS proyeksi yang harusnya dilakukan tiga kali sehari. Kutelpon dia…nggak diangkat. Dua kali, nggak diangkat…

“Dik masih mau kerja nggak?”

SMS itu juga tidak berbalas.

Nggak lama sekretaris kantor masuk, dia menujukkan SMS yang diberikan kontributor itu ke telepon genggamnya,

“Aku mengundurkan diri, titip salam buat Kepala Biro ya bilang xx xxxx xxx xx xxxxx xxxx.”

Erk…

Dahiku mengernyit…

“Dik selamat ya kamu udah jadi Kepala Biro. Awas dibunuh loh…”

Sekretarisku nyengir pilu.

Tawa keluku berderai…alahai satu sisi lain menjadi seorang pimpinan media, harus siap ditantang kontributor yang pemberang.

Ayoooo kita duel Ito*!!!

 

 

*Ito: tutur dalam bahasa Batak artinya saudaraku, panggilan yang sangat intim (biasanya kalau sudah semarga, sekampung)