Bank Indonesia harusnya Berpersfektif Daya Saing dan Stabilitas

Bapak perokok dan setengah botak ini berapi-api…

“Lebih baik Indonesia punya bank sepertiga dari jumlah yang ada, tapi tiap bank memiliki kekuatan tiga kali lipat dari sekarang. Tahun ini kita punya 10 bank besar dan 60 bang kecil, jumlahnya kebanyakan! Yang ideal tuh 20-30 bank saja Dek! Kekuatan bank kita pun bisa berpersfektif daya saing dan persfektif stabilitas.”

Keraguanku padanya sontak lenyap.

Menelan kembali kata-kata yang ingin kuucapkan…

Jangan Kaget Kalau Nanti Sopir Taksi atau Tukang Becak Mesin di Medan Orang Vietnam atau Bangladesh

hands

“Kesejahteraan umum itu berukur pada pertumbuhan ekonomi, besaran produk domestik bruto, tingkat kemiskinan yang diukur pada biaya hidup. Di sini ukuran biaya hidup kita saja cuma 200 ribu per bulan, di Amerika dua dolar per hari… cobalah kau pikir Dek, apa siap kita? Gak usah jauh-jauhlah tingkat ASEAN aja… jangan kaget kalau nanti sopir taksi di Medan atau tukang  becak mesin orang dari Bangladesh atau Vietnam…”

Ia menatap tajam dengan mata yang tak berwarna. Sementara aku mendengarkannya seperti orang terbius.

Rusmin Lawin, SH. Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia, Medan;  yang di kartu namanya memiliki tiga nomor handphone dari tiga negara. (Mantap kali dikau, Bang!)