Omelan Narasumber Menjelang Siaran Langsung

“Harusnya acara-acara teve itu bisa mengembangkan kearifan lokal dengan visi global, menjadi corong transformasi pembangunan berbasis ilmu dan teknologi, bisa membuat kita semua gemar membaca, mendorong mahasiswa untuk meneliti, memotivasi orang-orang berkreatifitas dengan inovasi-inovasi terkini… bisa…”

Pak, sudah on air ini…

Ia merapikan duduknya yang sedari tadi miring.

Teman? Mungkin yang Kau Maksud Penipu?

 

Seorang video jurnalis di sela-sela peluncuran kereta api Raillink…

“Teman? Mungkin yang kau maksud penipu, Kak!” Sergahnya dengan nada menghina.

Merasakan tatapan bengisnya bagaikan jari-jari yang meraba wajah.

 

 

(Dalam suatu undangan peliputan, teman yang dimaksud melakukan ‘pencairan’ atas nama kawan-kawan jurnalis lain).

Siapa Pahlawanmu?

Pahlawan? jebret!!! Siapa sebenarnya yang pantas digelar pahlawan di Indonesia ini? Bang One? Pak Tuntung? Benny dan Mice? Loh…kog ketawa sih, mereka itu sudah banyak melakukan sindiran sosial loh, orang yang baca atau ngeliat juga sering ketawa terpingkal-pingkal disindir sama tokoh karikatur itu. Yang nerimo ya berubah lebih baik setelah dinasehati dengan pesan-pesan pendek tersebut. Mbok ya sadaaar…

Baiklah, aku pun sebenarnya nggak tahu kalau ditanya siapa yang sebenarnya pantas untuk dijadikan pahlawan di negara kita ini setelah peperangan melawan penjajah nggak ada lagi. Ya iyalah…padahal nggak tau aja peperangan melawan kejahatan tersembunyi lebih gawat lagi. Coba lihat narkoba masuknya mengerikan di tiap pelabuhan-pelabuhan dan bandara. Siapa coba pahlawan yang berhasil memperkecil pesona narkoba ke generasi muda? Polisi?

Stempel pahlawan itu sekarang nggak gampang. Bahkan pertanyaan anakku siapa yang pantas dikuburkan di Taman Makam Pahlawan saja kujelaskan dengan cara terbata-bata. Lalu siapa pula yang berhak dan berani menambah daftar atau memberikan cap pahlawan di buku sejarah Indonesia?

Bukankah hal demikian sebaiknya tidak dilakukan serampangan? Apalagi jika pemberian gelar dilakukan atas kepentingan-kepetintangan orang tertentu yang berusaha membersihkan nama baik nenek moyang mereka yang ( padahal) telah melakukan beragam kekejian dan kepalsuan di negara kita ini selama bertahun-tahun.

“Lalu siapa lagi yang pantas digelar pahlawan sekarang ini menurut versimu?”

Well… Peperangan frontal memang sudah tidak ada lagi. Coba tengok musuh kita selama ini siapa? Apa? Pluralisme, kebodohan…kemiskinan. Coba nilai saja sendiri siapa yang sudah melakukan banyak hal buat pluralisme di negara ini? Siapa yang sudah mengurangi kebodohan, siapa yang mengurangi kemiskinan?

Gimana kalau kusebut, Gusdur untuk pahlawan pluralisme, dan Sri Mulyani untuk pahlawan ekonomi. Hahaha subjektifkaaaaaaaaaaaaaaaaan??? Belum ada tuh pahlawan penuntasan kebodohan di Indonesia… semua gila uang dan posisi. Sarung aja dikorupsi kog… emoh ah ngomongi soal siapa yang pantas jadi pahlawan. Biarkan masyarakat yang menilai! Titik. Aku kerja dolo yak!

Pengungsi Sinabung dan Go Green

Melihat kondisi Gunung Sinabung yang sudah turun status dari Waspada ke Awas. Rasa-rasanya nggak pantas lagi kalau ada warga yang masih bertahan di pengungsian. Betul nggak? Err..Soalnya sudah terdengar juga beberapa komentar sumbang dari orang-orang . Yah nggak perlulah disebutkan siapa.

” Wah mereka itu udah keenakan di pengungsian, nggak perlu kerja,  dikasih makan tiga kali sehari… ”

Oh lala, ngomong nggak bayar ya begini… Tapi begitulah kenyataannya. Benar kog…masih ada seribuan warga yang tinggal di Jambur Dalian Natolu Kaban Jahe yang berasal dari dua desa yang berjarak 200 meter dari kawah.

“Kampung yang dekat puncak Sinabung itu Simacem dan Bakerah dik! Di situlah kampung kami. Sekarang masih nggak berani pulang, soalnya dekat sekali dengan arah lahar turun, kalau tiba-tiba gunung meletus, warga di kampung kamilah yang kemungkinan terlambat melarikan diri.”

Well well well, kalau memang demikian, berarti pemerintah kabupaten harus segera turun tangan nih. Kalau nggak mau mereka terus-terusan di pengungsian Pak, yaaaa kasih solusi, jangan sembarangan ngasi komentar miring.  Warga sebenarnya pun jengah tinggal di pengungsian,  make love pun susah.( Tutup mata aaaah, pura-pura nggak dengar.)

Gimana kalau kawasan perkampungan mereka diberi ganti rugi saja. Trus…ya kampung itu dihutankankembali. Bukankah uang yang disumbangkan untuk mereka masih banyak. Pak, dana ganti rugi lahan dan rumah warga itu pasti nggak seberapa, lagi akan banyak jiwa yang bisa diselamatkan kalau Sinabung tiba-tiba meletus,  selain itu juga go green Indonesia bisa diwujudkan…

“Bah macam gampang kali kau buat rencana itu dik, itukan nggak gampang, harus izin sana izin sini.”

“Ya  tapi uangnya adakan Pak? Banyakkan Pak? Ya sutralah, kalau nggak terima usulanku jangan kalap kayak begitu. Bapak pertanggungjawabkan saja uang bantuan sebaik-baiknya, kalau ada penyelewengan… ya itung-itung  ada proyeksi bagus buat produser TELUSUR di TVONE.”

Narasumber Maksa!?

Begini nih kalau nara sumber maksa beritanya tayang. Telponku berdering, berhenti sebentar, lalu telpon satu lagi teriak-teriak minta diangkat. Yang GSM dan CDMA kemudian bunyi sekaligus, wuih. Panggilan pertama memang nggak bisa kuangkat karena aku sedang on the phone. Telpon terpanggil 3 kali at least. Well…jadinya begini…

“Halo bu jadi kapan berita saya ditayangkan?”

“Saya kan sudah bilang bu kalau masalah penayangan itu tergantung rapat proyeksi, tergantung berita apa yang paling aktual hari itu.”

“Tapi kan berita saya tadi bagus, gimana kalau saya ke kantor ibu besok.”

“Mau ibu datang, kalau rapat proyeksi menentukan berita ibu tidak layak tayang tetap saja tidak tayang.”

“Tapikan tadi bagus bu sampai ada yang pingsan-pingsan di dalam persidangan. Tolonglah ibu telponkan Jakarta biar berita itu tayang.”

“B, kalau ibu mau ke Jakarta, ibu mau telpon Pak Karni Ilyas atau pak Bakrie, kalau memang berita tidak layak tayang ya tidak bisa tayang. Sebaiknya ibu bersabar, kalau dirapat besok nggak ada berita yang lebih besar, kemungkinan tayang di Kabar Keadilan.”

“Ya bu tapi tadi saya dengar Hakimnya ke Medan loh, apa dia ke kantor Ibu?”

“Ibu jangan sembarangan menuduh saya terima uang ya. Ibu memaksa memberi saya uang pun saya tidak mau, ibu mengajak saya makan pun saya tidak mau.”

“Bukan begitu bu…ya tapi dia ke Medan.”

“Mana saya tahu dia ke Medan, dan itu bukan urusan saya Bu, saya nggak mau ibu berprasangka buruk dengan saya. Saya tidak terikat janji apa-apa sama ibu, ibu minta persidangan diliput kami liput, sioal penanyangan itu bukan tanggung jawab saya. Semua tergantung nilai berita yang paling hot dan aktual hari itu. Ini juga diputuskan bukan oleh satu orang tapi rapat proyeksi yang terdiri dari beberapa orang.”

“Tapi bu, apa baiknya saya besok datang ke kantor ibu?”

“Terserah ibu saja, saya sudah jelaskan ya, terima kasih bu!”

Ngelus dada…Buruk sangkanya si Ibu, dia pikir Hakimnya ke Medan karena buru-buru minta agar berita tadi nggak tayang. Kalau hakim mau menyabotase berita tadi, ngapain harus ke Medan mengingat jarak Siantar Medan 3 jam. Ia cukup menelpon dan menanyakan nomor rekening, bersih, aman dan mudah (iklan layanan gas dari Pertamina!).  Sayangnya aku merasa nyaman pegang duit cekak dari pada megang duit panas dari orang-orang yang kayak begini.  Kalau ada yang menawarkan pekerjaan kayak begitu… ya ke laut aja kali ya!!!

VJ Lembek?

Situasi ini memang dudul, kalau nggak hati-hati jurnalis bisa kejebak.  Suatu hari salah satu reporterku kembali dari sebuah peliputan.
“Kak aku benci sekali dengan para pendemo itu, mereka pikir aku sudah dibayar oleh petinggi di daerah ini sampai-sampai melalui TOA mereka tereak-tereak katanya orang teve semua dibayar dan demo mereka nggak pernah tayang. Semua wartawan dibayar??? Padahal aku nggak terima uang apapun!!!”

Aku mengambil daftar berita yang pernah tayang di Siaran Daerah dan buka-buka file di komputer.

“Nih tiga kali mereka demo, semua tayang!”

Kataku sambil memastikan bahwa mereka nggak benar dengan tuduhan sembarangan itu. Reporterku itu keluar ruangan sambil merasa bangga. Beberapa menit kemudian,  setelah mengedit naskah yang dibuatnya…pret! Penuh ambisi ia menuliskan nama-nama yang diduga (baca: dituduh) korupsi tersebut.

“Sama aja donk dik kog kamu mau aja dipengaruhi sama demonstran itu! Nama-namanya terpampang jelas di naskah kayak begini, percis ucapan para pendemo lagi.”

Aku preview gambarnya, aduh memang payah. Otaknya kecuci abis! Dia ketawa nyengir. Provokasi terhadap wartawan memang bukan isapan jempol. Banyak kelompok yang “mempergunakan” orasi-orasi menjurus, memanfaatkan media terutama televisi untuk memuluskan kepentingan-kepentingan “tertentu”.  Untuk demo yang satu ini aku tahu latar belakangnya, petinggi ini bersiteru dengan petinggi itu, dicari-carilah kesalahan. Kelompok petinggi yang memiliki organisasi prekeplet ini pun dengan segala daya upaya mencoba menghancurkan petinggi itu.

Isng-iseng kutanya ajudan terdekat kedua belah pihak. Mereka menjawab dengan santai, ah itu gara-gara dia kikir tidak mau memberikan proyek di Kabupaten Sirsilukap (nama itu fiktif yak!). Yang satu lagi bilang… gila masak minta proyek yang menyengsarakan rakyat.

Aku tersenyum melototin naskah reporterku tadi…betapa gampangnya memperalat video journalist yang mentalnya pas-pasan, dengan gambang terjerumus dalam permainan “mereka-mereka” yang lihai dan berduit. Aku segera mengedit naskah tersebut,  setuju soal desakan pengusutan dugaan korupsi itu dan menghapus nama-nama yang masuk daftar “menyeramkan” jika dipublikasikan itu.  Soalnya sangat menguntungkan petinggi yang satu lagi. Fair enough-kan?

Dung dung pret! Aku langsung mengirim naskah dan gambar reporter tadi ke Jakarta,  sisanya pakai Lillahi Taala. Terbayang footage demo tadi,  spanduk dan poster-poster yang memang bisa buat padam muka petinggi satunya. Rasanya aku sudah menjalankan kewajiban jurnalistik sesuai koridor.

“Pendemo mau datang ke  kantor kita kak! Mau mastiin kalau berita demo tadi tayang atau nggak?”

Ngacir ah!