Jurnalis Pergi Haji, Cadar-cadaran.

Pada sohib berhajiku, presenter tvOne Indy Rahmawati.

“Teteh, cuma kamu yang bercadar tapi baju warna-warni”. Kataku ragu-ragu. Serba salah melihat seorang jamaah berjubah hitam dan bercadar melirik ke arah Indy. Aku pura-pura menggaruk telinga.

Teh Indy terdiam beberapa detik memerhati sekeliling.

“Eh iya ya…”

Lima menit kemudian, cadar hitam hasil belanja di Mekkah itu masuk ke dalam tas.

Di gerbang mal Zam-zam senyum tipis merekah di wajah kami berdua. Aku melanjutkan mencuri-curi membuat footage, Indy berjaga dari mata para Askar yang anti melihat aktivitas perekaman memakai video kamera.

 

 

 

 

Footage: rekaman video peliputan.
Askar: Polisi di Masjidil Haram

Media Online Kini Termasuk Media Massa yang Dipercaya Setelah TV dan Radio

” Media online sekarang termasuk media massa yang dipercaya setelah teve dan radio loh, Kak.  Biar pun dulu sering dibilang dangkal dan banyak salahnya karena mau cepat-cepat dan gak dalam.”

Wartawan online ini mengamati mimik mukaku seperti mengamati kawan asing yang tersasar duduk di meja mereka… Tiba-tiba aku lupa puasa hari ini aku haus sekali.

Mekanisme Kesalahan Jurnalis Harus Lewat Kode Etik, Lucu Juga Ada Wartawan yang Mau Mendatangi Panggilan Polisi

Farid Wajdi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dalam Diskusi Jurnalistik Aliansi Jurnalistik Indonesia Langsa…

“Apakah jika Hak Jawab dilakukan gugur Hak Tuntut? Lalu bagaimana mekanisme hukum jika Hak Jawab belum digunakan?”

Pensilku membuat lingkaran-lingkaran kecil di kertas. Mendengarkan dengan serius.

“Rata-rata kalau Hak Jawab sudah dilakukan, orang-orang kita sudah menganggap masalah itu selesai.  Tapi bagaimana pun mekanisme kesalahan yang dilakukan seorang Jurnalis harus lewat Kode Etik, lucu juga ada wartawan yang mau mendatangi panggilan polisi.”

Kini kepalaku terdongak ke arahnya. Hari itu terasa terang benderang!!

Tiga Kesalahan Jurnalis Zaman Sekarang

Lagi, di kantin Taman Budaya Sumatera Utara

“Nov, sini kau dulu, asyik mau cepat pulang aja kalau lihat aku…”

“Pasti abang mau marah-marah ke aku soal jurnalis kami kan?”

“Kok tau kau, aku cuma mau bilang tiga aja kesalahan jurnalis zaman sekarang, gak mau minta maaf dan mengakui kesalahan, berita tidak berimbang dan proporsional, yang terakhir fakta dicampur-campurnya sama opini, nah sekarang pulanglah kau, dah gak ganjal lagi hatiku.”

Jleb.

Tangan wartawan senior ini mengelap lelehan kopi di bibirnya.

 

Bahasa Baku dan Bahasa Resmi

 

“Bos, bahasa baku beda dengan bahasa formal. Bahasa formal biasanya buat dokumen resmi , pidato presiden atau ilmu pengetahuan…tulisan wartawan ya bahasa bakulah…Coba baca naskah reportermu ini…” Tanganku menunjuk pada sebuah e-mail.

“Abis dikau traktir makan ini jadi kayak Redaktur Cetak pula aku sekarang…” Sambungku lagi sambil cepat-cepat mengganti topik.

 

Mataku kemudian kupindahkan pada rerumputan basah di luar cafe.

 

 

 

Presiden dan Wakil Presiden

Menjelang kutinggalkan warung di belakang Taman Budaya Sumatera Utara di jalan Perintis Kemerdekaan itu…

“O iya, kutengok aktif kali kau di Tuit… er. Kau hindarkan kata-kata ofensif terkait presiden dan wakilnya, apalagi yang jelas-jelas menghina, bias, menghakimi, berat sebelah, penyimpangan arah…”

“Apa penyimpangan arah, Bang?”

“Kalau kau mau ke rumah sakit Pirngadi tapi kau belok ke hotel Grand Angkasa, bah! Pulang sana kau!”

Ia pun berdiri dari kursinya, kali ini mengeluarkan dompet, membayar ubi goreng dan teh manisku. Buang tabiat, kok baek kali dia, pasti baru cair liputan promo Yamaha yang dibilangnya tadi… Ssst.

Hakhakh.