Fungsi Etika dalam Pers Bukan untuk Takut pada Orang tapi untuk Diri Sendiri

Bapak Bagir Manan suatu hari dalam sebuah diskusi…

“Pers tidak punya struktur menegakkan Pers. Dewan Pers tak punya hak menghukum. Penegakan hukum internal Pers merupakan panggilan pribadi. Mau taat atau tidak pada ethic, kitalah yang harus taat sehingga publik akan percaya, itulah balasannya. Fungsi Etika dalam Pers itu untuk diri sendiri bukan untuk takut pada orang.”

Cahaya bohlam membuat tas seorang tamu di sebelahku gemerlapan bagai kulit ular.

Untuk Menjadi Profesional Itu Butuh Waktu dan Tenaga yang Tidak Murah

Ini catatan Bang Farid Wajdi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara yang bikin aku merenung lama ketika duduk di atas pispot.

“Jenjang untuk dikatakan profesional itu susah loh sebenarnya…Coba lihat dokter, dokter itu lulus 5 tahun, magang harus 2 tahun baru bisa dapat izin praktek, belum lagi spesialisnya. Notaris… harus S-1  dulu 4 tahun, magang 2 tahun, ikut ujian notaris, 2 tahun magang, total 8 tahun baru bisa dapat notarisnya.  Kalau JURNALIS??”

Melayangkan pandangan cemas ke seluruh peserta diskusi jurnalistik, menerka-nerka mana wartawan S-2 dan yang sama sekali tak kuliah…

Pemimpin Dunia Mana Saja yang Sudah Kamu Wawancarai?

Seorang wartawan media cetak nasional suatu hari…

“Jadi, pemimpin dunia mana saja yang sudah kamu interview?”  Ia memperbaiki duduknya.

Sementara dinding kaca di belakangnya memantulkan sosokku, kambing bermata merah dengan tanduk berapi…

(Pernahkah kau tengok ratusan orang mati bersamaan dan kau tidak bisa menyelamatkan satu orang pun? Penting kali rupanya pertanyaan itu?)

Maka aku pun menjawab ia seadanya.