Rp.10 Juta

Melihat langsung liputan tim tvOne di penggrebekan teroris memang menegangkan, ciamik!  Melihat Ecep dan Aditya melaporkan dari Tempat Kejadian Perkara rasanya kembali ke masa lalu. Ahhh I miss those days! Ceritanya nih duluuu itu aku juga berkesempatan masuk ke wilayah-wilayah konflik, dipakein helm, rompi anti peluru ( yang beratnya auzubillah!!!). bedanya kalau dulu itu nggak ada OB Van, aku satu-satunya perwakilan televisi dari kantorku.

Suatu hari  nih… Bupati Aceh Tenggara mau pulang dari Medan ke Blangkejeren. Beliau mau bawa kru teve untuk meliput pembangunan di wilayahnya, baiklah. Yang pergi itu aku, TPI dan RCTI. Berangkatnya jam 4 sore. Ini berarti kami mulai tengah malam hingga dini hari berada di tengah hutan untuk sampai ke jantung kota Blangkejeren. Sebenarnya kalau kupikir-pikir si Bapak itu kayaknya mau cari orang-orang yang bisa dibayar mahal agar dia bisa pulang dengan selamat, glek!

“Siapa yang bisa nyetir ya?” Bupatinya nanya ke kami bertiga. Dua teman tadi menunjukku. Bleh! Jebret! ” Saya mau minta tolong, waktu berangkat ke Medan mobil saya di tembak dari bukit. Sepertinya GAM mengincar saya.” Bla bla bla… Jadi maksud si Bapak aku dijadikan tumbal, nyamar jadi dia, berada di mobilnya trus dia duduk di mobil yang ada kru tevenya di kawal empat Brimob, erk…

Namanya aja masih darah muda! Tawaran itu kuterima. Baiklah, akhirnya aku pun menyetiri mobilnya, ternyata si bapak diapit mobil lain, di tengah antara mobil kru teve dan mobil dinas yang ber plat merah yang kusupiri, sementara ia berdua saja bersama supirnya.

Seorang pengawal brimob yang pakai rompi anti peluru dengan AK 45 akhirnya mendampingi aku di dalam mobil dinas tersebut. Nggak kebayang aja kalau Papaku tahu, Mamaku tahu aku dijadikan samaran buat incaran tembakan GAM, barangkali bapak Bupati itu bakalan dibunuh duluan sama Mamaku, wakakaka! Dijamin bakalan lebih ganas cakaran Mamaku dari tembakan pembunuhan para GAM itu Pak!

Nah diperjalananan itu aku juga pakai rompi… rompi atau buldozer ya? Berat rompi 9 kg, pakenya 14 jam nyetir, hanya dibuka sebentar ketika berhenti waktu buang urin di markas Brimob. Beberapa kali tubuhku melorot ke bawah steer mobil. Tampangku udah nggak ada cantik-cantiknya deh. Sepanjang jalan aku berharap ketemu harimau Sumatra aja atau sekelompok gajah ngamuk daripada menghadapi GAM.  Si Mas-mas Brimob di sebelahku cerita kontak senjata dengan GAM itu mengerikan (nggak usahlah kuceritakan, ada melanggar HAM-nya!)

Nih caranya si Brimob ngajarin aku ngelak tembakan…

“Mbak 500 meter lagi lewat perbukitan…Kita pelan, konvoi sama mobil belakang ya, kalau saya bilang tancap gas, kencang ya.”

“Siap Mas!” Trus dia ngontak Brimob yang di dua mobil belakang pakai handy talkie, ok 400 meter lagi, 300 meter, 200…”

“Kencang mbakkk…cepat!!! cepeeet!!!!”

” Dereeetet!!! Derretteee! Dettererrreerrr.”

Dari seberang sana entah dari mana-mana

“Duor! Dretett tetetettt dreeeetett.”

Dia nembaki AK-nya ke udara, dan aku kesetanan nyetir pontang panting kayak babi ngamuk begitu dengar ada sahutan peluru dari bukit sana.

Gedubraksss!!! Lupakan suara peluru-peluru yang dimuntahkan itu. Ada yang lebih menakutkan lagi. Pernah nggak ke tengah-tengah Sumatra Utara nembus jalan ke Aceh Tengah? Tahu nggak jalannya kayak apa? Badan jalannya kecil,  lewat tebing-tebing Bukit barisan, kalau nggak kanan jurang, maka yang kirilah jurang, nah depannya suka ketemu van L-300 yang kencangnya kayak Formula 1 mau dekat finish! Kencaaaaaaang banget.

Baiklah, sepanjang jalan aku berdoa, Tuhan kalau Engkau inginkan aku mati di tengah belantara ini dihantam timah panas, harus Kau pastikan matiku JIHAD! Jika aku masuk jurang, pastikan di dalam sana surga. Kalau malaikat maut mencabut nyawa dengan cara ditabrak L-300 yang kesetanan itu, langsung putihkan dosa-dosaku tanpa dihisab! (Banyak permintaan nih…mumpung lagi sekarat.)

Akhirnya, setelah ini itu,  setelah adrenalinku dilibas suara dentuman AK 45 dari jendela mobil di sebelah.  Kami tiba di Blangkejeren dengan selamat. Rompi yang beratnya kejam itu kulepas dengan sujud syukur di rumah Bupati. Kami kembali ke Medan dengan selamat empat hari kemudian. Dua hari liputan situasi kondisi Kabupaten tersebut, hari ke-4 pulang dengan pengawalan dua mobil Brimob.  Tentu pulangnya aku memilih duduk di bagian belakang mobil, minta satu jok keseluruhan buatku. Aku dzikir tiap lewat bukit-bukit yang kuingat harus tancap gas tersebut. Dua minggu kupingku mendenging tiap ingat letusan senjata.  Dua minggu itu juga aku terbata-bata mendoakan para Brimob yang harus bertahan di daerah konflik tersebut,  ah kenapa sih nggak damai aja semua! Apa enaknya main perang-perangan begitu, jantungan!!! Jebret;  naif mode.

Sisanya aku kembali ke kehidupan normal…nyaris lupa kalau nggak lihat tayangan liputan Teroris di hutan Aceh tadi.  Oh iya… kapan-kapan aku cerita aku ada di markas GAM ya…lebih seru! Eh, aku lupa, pulangnya aku dikasi uang sama Bapak itu…dia bilang maaf bukan menghargai murah nyawamu, ini buat ngilangi shock…(Pssst…harga nyawaku 10 juta rupiah!)

*Kejadian 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s